Hikayat Pesawat Kepresidenan

14 Apr 2014

Kamis, 10 April 2014, suasana berbeda terasa di Pangkalan TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma. Sebuah benda besar berwarna biru langit melayang mendekat menuju Halim. Benda terbang itu tentu saja adalah sebuah pesawat, tidak lain dan tidak bukan - tapi bukan sembarang pesawat.

Bukan, pesawat biru langit tersebut bukanlah milik klub sepak bola Manchester City - bukan pula milik klub kota Roma, Lazio. Meski berwarna dominan biru langit, nyatanya pesawat jenis Boeing 737-800 Business Jet 2 (BBJ 2) tersebut adalah milik republik merah-putih Indonesia: sebagaimana tertulis dengan font balok Arial berwarna hitam di setengah bagian atas badan pesawat. Layaknya seremonial kenegaran lainnya, pesawat lalu diserahterimakan dengan berbalas pujian antara yang memberi dan yang menerima.

Presiden memang harus naik pesawatnya sendiri. Ia adalah pejabat negara pesohornya pesohor di seantero negeri. Tak layaklah ia menyewa pesawat milik maskapai komersial, apalagi bila ia harus berbaur dengan khalayak umum yang berpelesir dengan pesawat komersil. Tak layak pulalah ia duduk sekabin dengan para TKI yang baru pulang kembali ke kampung halaman dengan membawa segepok devisa, sungguh tak layak. Sebagai pemimpin negara, Presiden harus memiliki privilege yang membedakannya dengan rakyatnya. Kemewahan, kalau perlu. Presiden tidak boleh kalah dengan para pengusaha dan politikus yang bisa menikmati keindahan Maladewa dengan pesawat pribadi mereka masing-masing. Presiden memang tak harus memiliki boneka teddy bear, tapi ia wajib memiliki pesawat pribadi. Kalau tidak, maka rakyat jualah ia.

Pesawat kepresidenan tentu saja berbeda dengan pesawat presiden. Kepresidenan mengandung arti segala hal yang bersifat presidensial: hal-hal yang menyangkut tugas-tugas seseorang sebagai Presiden: kunjungan negara, diplomasi luar negeri, kerjasama ekonomi. Dari DC-3 Dakota sumbangan rakyat Aceh, Lockheed pemberian John F. Kennedy hingga Ilyusin hibah dari Nikita Kruschev semuanya seyogyanya hanya boleh digunakan untuk kepentingan kepresidenan dan atau kepentingan kenegaraan: kepentingan rakyat banyak.

Pesawat kepresidenan dimiliki oleh negara, bukan presiden. Negara memberikan mandat kepada presiden untuk menggunakannya seperlunya untuk kepentingan negara. Kalau pesawat presiden? Pesawat presiden ya pesawatnya presiden jangan bicara lagi mengenai negara, apalagi rakyat. Semantik memang. Tapi apakah anda tahu bahwa pengamanan VVIP itu melekat pada diri Presiden, bukan kepresidenan, dan bahwa pesawat kepresidenan adalah bagian dari pengamanan VVIP tersebut? Jadi meskipun yang dilakukan tidaknyah bersifat kepresidenan, pesawat kepresidenan tetap bisa digunakan oleh seorang Presiden - sebuah paradoks tingkat tinggi.

Tak perlu heran bila nanti Presiden perlu menghadiri wisuda anaknya yang kebetulan kuliah di luar negeri maka ia akan naik pesawat kepresidenan. Apabila ia mengambil cuti untuk menengok cucu di luar negeri, maka pesawat kepresidenan juga yang dipakai. Sembari menghadiri wisuda di Harvard dan menengok cucu di Minnessota, bolehlah ia berwisata ke Grand Canyon atau sekedar menonton pertunjukan di Teater Ford. Ah, Teater Ford. Anda tahu, Abraham Lincoln, salah satu presiden termasyhur dalam sejarah Amerika itu menghembuskan nafas terakhirnya disana?

Sic semper tyrannis!

Mereka yang menyalahgunakan kuasa adalah sebenar-benarnya tiran.

3f7c5a089646a06798ae1826b3c87942_pesawat-presiden-ri


TAGS


-

Author

Follow Me