WIND OF CHANGE

25 Feb 2011

Wind of Change

Hernawan Bagaskoro Abid*

I

Bukalah gerbang ini. Rubuhkanlah tembok ini, Tuan Gorbachev ujar Ronald Reagan dengan suara lantang, terkesan menantang. Saat itu pukul dua siang, tanggal 12 Juni 1987, 45 ribu orang berkumpul di Gerbang Brandenburg untuk memperingati dirgahayu kota Berlin di tengah atmosfer Perang Dingin antara AS dan Uni Soviet. Tak dinyana dua tahun kemudian, 9 November 1989, tembok nan tinggi dan angkuh tersebut benar-benar berhasil dirubuhkan. Revolusi Velvet di Cekoslovakia, gerakan Solidaritas di Polandia hingga tumbangnya wakil komunis di Hongaria menjadi bagian dari runtutan sejarah menuju pecahnya Uni Soviet. Perestroika dan Glasnot, dua kebijakan Mikhail Gorbachev memperburuk situasi. Inilah akhir dari rezim komunisme Soviet di Eropa Timur. Perang Dingin pun berakhir. Samuel P. Huntington (1991) menyebut ini sebagai puncak dari gelombang demokratisasi ketiga (third wave democratization). Dunia yang kita kenal saat ini sedikit banyak dipengaruhi oleh rentetan peristiwa tersebut.

Dua puluh dua tahun kemudian, diawali penumbangan rezim Ben Ali melalui Revolusi Melati di Tunisia dan mencapai klimaks di Lapangan Tahrir Mesir, tembok imajiner otoritarian di kawasan Maghribi pun runtuh. Tembok imajiner tersebut selama ini melambangkan keangkuhan para penguasa yang tuli dan bisu terhadap penderitaan rakyat. Tebal dan bebal. Dinding yang dibangun menjulang tinggi dengan tangan besi ternyata bukan tak dapat dirubuhkan. Gelombang aksi massa menjelma menjadi angin taufan yang menghantam dan meluluhlantakkan tembok tersebut.) Peran civil society (masyarakat sipil) disebut oleh Larry Diamond (In Search of Consolidation, 1997) cenderung lebih menonjol dalam model-model revolusi semacam ini. Rakyat Tunisia, lalu Mesir, telah membuktikannya dengan perjuangan gigih mereka.

II

Wind of Change, begitulah judul tembang yang diciptakan oleh grup rock legendaris asal Jerman, Scorpions. Terinspirasi dari runtuhnya Tembok Berlin dan pecahnya Soviet, Scorpions seolah mencoba menyampaikan dalam lagu ini bahwa bila angin perubahan (wind of change) telah berhembus, tak ada tembok yang tak dapat dirubuhkannya. Tampaknya, angin perubahan kini tengah berhembus kembali, setidaknya di kawasan Maghribi, meskipun seberapa besar dampaknya masih belum dapat diramalkan. Tunisia dan Mesir telah tersapu. Yaman, Aljazair hingga Bahrain mulai bergolak. Angin perubahan yang tengah berhembus saat ini akan direspon dengan cara yang berbeda pula oleh pihak-pihak yang ikut merasakannya. Bagi rakyat yang selama ini terkekang oleh rezim yang otoriter, angin perubahan layaknya semilir angin pegunungan yang sejuk dan segar, bertiup sepoi-sepoi membawa semangat perubahan kearah yang lebih baik. Akan tetapi tidak demikian halnya dengan rezim-rezim otokratik. Angin perubahan bisa jadi dianggap sebagai ancaman sekelas La Nina, Katrina atau Badai Yasi yang destruktif dan berpotensi memporakporandakan kekuasaan status quo rezim.

Yang menarik, meskipun sama-sama merasa terancam dengan angin perubahan yang terjadi di Maghribi, tidak semua pemerintahan otokratik merespon dengan cara yang sama. Setidaknya, respon tersebut terbagi menjadi dua yaitu respon positif dan negatif. Sebagian rezim yang masih berada di kawasan Maghribi tampaknya merespon secara positif, sedangkan rezim di luar kawasan tersebut merespon dengan cara negatif. Presiden Aljazair Abdulaziz Bouteflika yang khawatir atas efek terjungkalnya Hosni Mubarok dan Ben Ali akan menjalar ke Aljazair segera menjanjikan bahwa pemerintah akan mencabut status darurat militer Aljazair yang telah berlaku selama 19 tahun. Bouteflika pun mengisyaratkan bahwa unjuk rasa tak lagi diberangus dengan kekuatan militer. Di Bahrain, eskalasi demonstrasi mulai meningkat. Raja Hamad bin Isa Al Khalifa memutuskan bahwa tiap keluarga di negara teluk itu mendapat bonus 1000 dinar dari kerajaan, sehari setelah Hosni Mubarak lengser.

Lain respon Maghribi, lain pula respon Cina dan Iran. Selama masa krisis di Mesir, pemerintah Cina sibuk melakukan sensor informasi mengenai Mesir. Bila sebagian besar negara di dunia meminta Mubarak untuk memenuhi tuntutan massa, otoritas Cina justru meminta dunia untuk tidak mencampuri urusan pemerintah Mesir dan menganggap bahwa penggulingan Mubarak hanya akan membawa malapetaka bagi Mesir. Setali tiga uang, pemerintah Iran melarang warganya untuk melakukan unjuk rasa mendukung revolusi di Maghribi. Larangan ini lantas berujung bentrok antara demonstran dan polisi di Bundaran Azadi. Bedanya, bila demonstrasi di Maghribi tidak digawangi oleh elit politik, unjuk rasa di Iran justru digerakkan oleh kelompok oposisi Hossein Mousavi yang telah lama berseberangan dengan rezim Ahmadinejad. Setidaknya, angin perubahan juga telah berhembus di Cina dan Iran, entah nantinya angin ini mampu merobohkan tembok rezim atau tidak. Kalau media mau meliput, saya bahkan yakin, di Kuba, Venezuela, Korea Utara hingga Arab Saudi pasti ada bentuk-bentuk perlawanan terhadap rezim yang sedang bercokol sekarang. When there is power, there is resistance. Bagi Foucault, (The History of Sexuality: An Introduction) hal ini adalah sunatullah. Menantang hukum alam tentang resistensi dengan memberangusnya berarti memperkosa alam semesta.

III

The wind of change blows straight

Into the face of time

Like a stormwind that will ring

The freedom bell for peace of mind

Angin perubahan menghantam telak rezim-rezim otokratik yang berdiri mengangkang di hadapan jaman. Menampar kesombongan penguasa lalim. Perubahan mengutip Benjamin Disraeli- tak dapat dihindari: change is inevitable! Hembusan angin perubahan inilah yang akan membunyikan lonceng kebebasan bagi manusia yang dikekang oleh manusia lainnya. Semenjak peristiwa di Gerbang Brandenburg, angin perubahan yang sempat terlupakan kini menjadi momok menakutkan bagi rezim sekaligus harapan bagi rakyat yang tertindas. Dari Taman Gorky di Moskow, melintasi sang waktu dan hadir Lapangan Tahrir di Kairo. Kini, Lapangan Syuhada di Aljazair, Lapangan Sanaa di Yaman hingga Bundaran Azadi di Iran menanti angin perubahan ini. Kita pun berharap, semoga mereka yang meniupkan angin perubahan tak bernasib sama dengan mereka yang hadir di Lapangan Tiananmen, 4 Juni 1989: gugur di ujung senapan rezim.

*Penulis adalah pemerhati politik internasional. Master di bidang Ilmu Politik dari Universitas Diponegoro


TAGS


-

Author

Follow Me