Nigeria dan Kutukan Sumber Daya Alam

7 Jan 2011

Oleh Hernawan Bagaskoro Abid*

Serangkaian ledakan bom terjadi pada Malam Natal 2010 di kota Jos, ibu kota negara bagian Plateau, Nigeria. Sejurus kemudian, beberapa serangan berdarah juga terjadi di tiga gereja di Maiduguri, Nigeria bagian utara. Perkembangan terakhir menyebutkan bahwa korban jiwa mencapai 86 orang dan 189 lainnya ikut terluka. Nigeria seolah mengalami kembali tragedi kemanusiaan yang memang silih berganti melanda negeri tersebut.

Nigeria adalah sebuah negara di Afrika Barat dengan 37 negara bagian dan jumlah populasi penduduk sebesar 152 juta jiwa atau yang terbesar ke delapan di dunia. Selain jumlah penduduk, Nigeria juga kaya akan etnis dan bahasa, yaitu sebanyak 250 kelompok etnis (Igbo, Yoruba dan Hausa yang terbesar) dan 120 bahasa yang masih eksis. Keanekaragaman suku, bahasa, budaya dan agama memang menjadi ciri khas Nigeria, meskipun sejarah mencatat bahwa acapkali keanekaragaman tersebut membawa konflik yang seolah tak berkesudahan disana.

Setidaknya ada tiga hipotesis atas akar konflik yang acapkali mendera Nigeria. Yang pertama adalah pertikaian antar etnis, atau konflik tribalisme. Pada masa kolonialisme Inggris, berbagai konflik berdarah antar suku-suku di Nigeria kerap terjadi, baik yang melibatkan tiga suku besar Igbo, Yoruba dan Hausa, maupun yang melibatkan ratusan suku-suku lainnya seperti Ife/Modakeke, Ogoni, Andonis, Kano, Sagamu hingga Jukons. Bahkan selepas masa kolonial pun, pada medio 1990-an, konflik yang biasanya dipicu lahan kekuasaan ini masih terjadi, antara lain yang terjadi di negara bagian Anambra dan negara bagian Ondo.

Hipotesis kedua adalah perihal agama dan kepercayaan, yang disebut oleh banyak pihak sebagai sumbu dari kerusuhan yang terjadi pada Malam Natal. Nigeria sering disebut terbelah antara dua bagian, yaitu utara dan selatan. Negara-negara bagian di utara sebagian besar beragama Islam, sedangkan di selatan sebagian besar beragama Kristen. Jumlah populasi antara dua pemeluk agama tersebut hampir sama, yaitu Islam sebesar 50 persen, sedangkan Kristen 48 persen. Pada tahun tanggal 27 Oktober 1999, negara bagian Zamfara mendeklarasikan bedirinya Negara Islam dengan hukum berdasarkan syariat Islam, yang lantas diikuti oleh Kano, Katsina, Niger, Bauchi, Borno dan beberapa negara bagian di Nigeria utara. Kota Jos di negara bagian Plateau sendiri terletak di tengah-tengah, antara Nigeria utara dan selatan, sehingga sering disebut sebagai battlefield (medan peperangan) antara kelompok yang bertikai dari utara dan selatan. The Economist (2007) dalam Nigerias Muslim-Christian Riots: Religion or Real Politics mencatat bahwa lebih dari enam ribu orang meregang nyawa dalam berbagai kerusuhan antar agama sejak 1999 hingga 2002 di negeri ini pasca formalisasi syariat Islam. Bukan hanya dari pihak komunitas Islam saja, Christian Association of Nigeria (CAN), sebuah organisasi dari komunitas Kristen di Nigeria juga melakukan aksi-aksi untuk memuluskan diterapkannya apa yang disebut dengan hukum Christian Canon, yang serupa tapi tak sama dengan hukum syariah Islam (Workers Alternative, 2002).

Ekonomi-politik adalah hipotesis ketiga yang berperan besar dalam genealogi konflik di Nigeria. Perebutan kekuasaan terhadap sumber-sumber ekonomi seolah luput dari pengamatan sebagian besar orang. Padahal, konflik yang secara kasat mata terlihat sebagai konflik etnis atau agama sebenarnya juga mengandung motif-motif ekonomi dengan menggunakan alat berupa politik dan kekuasaan. Daerah di sekitar sungai Niger adalah daerah yang paling subur di seluruh Nigeria, sehingga banyak suku-suku pada masa lalu saling berebut untuk menguasai daerah tersebut. Selain faktor etnis dan agama, faktor ekonomi pulalah yang menyebabkan munculnya pembagian wilayah imajiner antara Nigeria utara dan selatan, yang terus menerus bertikai untuk memperbesar pengaruh di Nigeria bagian tengah, di kota-kota seperti Jos yang terletak di dekat sungai Niger dan sungai Benue. Beberapa cadangan minyak yang berjumlah besar juga berada di dekat dua sungai tersebut. Sebuah serangan yang dilakukan di dekat barak militer Nigeria pada perayaan tahun baru (1/1/2011) mengindikasikan bahwa teror memang tak hanya ditujukan kepada golongan tertentu saja.

Kekayaan alam di Nigeria memang berlimpah. Selain kaya dengan minyak (cadangan minyak terbesar nomer sepuluh di dunia), Nigeria juga kaya akan batubara, mineral, emas hingga gas alam. Akan tetapi sebagaimana negara lain yang juga kaya akan kekayaan alam (seperti Indonesia), Nigeria mengalami sebuah permasalahan klasik yang sering disebut dengan resource curse (kutukan sumberdaya alam). Joseph E Stieglitz, et al dalam Escaping Resource Curse (2007) mengemukakan bahwa negara-negara yang berkelimpahan sumberdaya alam mengalami performa pembangunan ekonomi dan good governance yang lebih buruk daripada negara dengan sumberdaya alam yang lebih kecil. Senada dengan Stieglitz, mantan wakil UNICEF di Nigeria, Dr. Ibrahima Fall pernah menulis bahwa kemiskinan di Nigeria adalah sebuah isu yang terus mengemuka, sangat paradoks dengan kenyataan bahwa Nigeria memiliki sumberdaya alam yang berlimpah. Lebih parah lagi, akses terhadap sumber-sumber ekonomi Nigeria ini sering memicu konflik antar sesama mereka. Termasuk perebutan kekuasaan politik dan kudeta berdarah yang berkali-kali dilakukan oleh militer dan sipil di Nigeria. Bahkan, isu etnis dan agama disebut sebagai upaya dari orang-orang di lingkaran kekuasaan untuk memecah-belah kaum miskin, sehingga mereka dapat memonopoli sumber-sumber kekayaan negara untuk kepentingan sendiri. Inilah bagian terburuk dari sebuah resource curse!

Disaat capaian ekonomi Nigeria semakin meningkat, dan diprediksi sebagai calon kekuatan ekonomi baru dalam next eleven, konflik-konflik masih saja terjadi, seolah tidak pernah cukup korban yang berjatuhan di masa lampau. Benarlah bila seorang sastrawan ternama, salah satu putra terbaik Nigeria, Chinua Achebe mengatakan bahwa: The only thing we have learnt from experience is that we learn nothing from experience.

*Penulis adalah pemerhati masalah internasional. Master di bidang Ilmu Politik dari Universitas Diponegoro.


TAGS


-

Author

Follow Me